Salah Moeloe

Tidak bermaksud mengeluh pada akhirnya, tapi memang setelah dipikir-pikir lucu juga sih karena entah benar atau hanya perasaan saja kok apapun yang gue lakuin salah aja terus ya?

Mau banyak cerita (kalau sedikit taunya banyak tar dikira bohong). Jadi kalau gue coba merefleksikan diri dari detik ini dan ditarik munduuur ke belakang, rasanya ada satu part yang cukup konsisten di gue: pembawaan yang gaenakan, ngerasa suka ngelakuin kesalahan, dan ujungnya suka bener-bener ngerasa bersalah.

Gue gatau teorinya, tapi common sense gue mengatakan kalo pembawaan seseorang itu salah satu pengaruh kuatnya adalah gimana dia di lingkungan tempat tinggalnya. Let just say rumah gitu. Jadi gue coba menyimpulkan sebenernya gue tuh orang yang kayak apa sih di rumah. Peran gue apa. Lantas bagaimana orang memandang gue, sehingga akan berakhir pada penemuan akan panel kendali gue sendiri tuh sebelah mana sebenernya.

Hasil observasi gue sejauh ini sih ya memang bener ada gitu sisi-sisi gaenakan dan agak sulit mengungkapkan apa yang gue pikirkan. Barangkali karena bungsu. Di satu sisi gue merasa setiap orang di rumah gue, dengan catatan tentunya semua lebih tua dari gue, punya keluwesan tersendiri jika harus berkomunikasi dengan gue. Mungkin juga karena gue adalah yang paling muda. Trus adapun gue merasa mudah sekali mengidentifikasi ego masing-masing orang, karena gue juga yang suka denger cerita masing-masing orang di rumah gue. Ya balik lagi, barangkali karena bungsu, secara umur lebih muda, yang berimplikasi pada persepsi yaitu paling sedikit pengalaman, pengetahuan, dan lain-lainnya (ini wajar sangat sangat). Akhirnya dengan persepsi itulah membawa gue menjadi orang yang penuh dengan observasi, mendengar, sampai dengan hanya memerhatikan jika ada suatu kejadian serius di sekitar gue.

Sisi lain dari bungsu yang dilingkupi oleh begitu banyaknya "pendapat" yang gue resapi dari orang-orang yang lebih tua dari gue, membuat gue jadi linglung sendiri "mana sih yang bener?" karena begitu beragamnya orang-orang di sekitar gue, masing-masing memiliki pendapatnya, dan mewujudkan pendapatnya dengan caranya sendiri. Sekalipun hal itu akan linear ataupun bertentangan dengan pendapat yang lain.

Di sini gue mulai agak kurang paham, antara reseptor terhadap hal negatif gue lebih peka atau memang lingkungannya yang demikian, bahwa gue lebih intens menangkap pertentangan pendapat dibandingkan kumpulan pendapat yang saling linear dari individu yang berbeda. Gak jarang gue bener-bener menjadi penonton ataupun ikut terlibat dalam masing-masing pendapat yang muncul. Jika bersama si A dengan pendapatnya, maka gue akan menjadi bagian dari pendapatnya. Ketika B berpendapat, gue juga demikian.

Memang bener, gue merasa tidak ada kesungkanan apapun dari setiap orang ke gue. Semua bebas dan luwes berkeluh-kesah dihadapan gue. Di satu sisi gue seneng karena keterbukaan orang-orang ke gue, karena dengan terbuka itu, gue jadi tau celah mana yang gue bisa melibatkan diri untuk membantu. Tapi gak jarang banyak juga kurangnya. Ketika ada kejadian serius terkait keberpihakan. maka ini membuat gue menjadi begitu abu-abu. A merasa gue adalah A, B merasa gue adalah B. dan seterusnya. Sehingga ketika A dan B bertentangan, habislah gue. Gak jarang banyak beberapa hal, gue jadi diatasnamakan.

Lantas pertanyaanya adalah sebenarnya gue yang asli yang mana?

Gue mulai menemukan bagian lain di gue setelah di SMA dan dipercaya untuk  mengepalai sebuah organisasi. Jujur aja gue gak ngerasa jadi ketua. Rasanya gue yang disupport. Gue dipaksa untuk menunjukkan sisi gue yang gue sendiri belum pernah ketemu. Lambat laun akhirnya gue sedikit tau kanal kendali gue sebelah mana. Akhirnya gue manfaatkan itu pas keterima kuliah. Satu hal yang gue lakukan selama kuliah adalah eksplorasi lebih jauh. Gue bener-bener observasi yang gue liat di luar diri gue dan bahkan gak jarang jadi find out sesuatu yang menarik di dalam diri gue yang gue juga baru tau. Tapi gak jarang gue juga mendapat penolakan akibat kerterbukaan gue khususnya dalam hal berpendapat. Jadi bisa dibilang gue belajar mengungkap pendapat saat SMA dan menerapkan saat di kuliah, namun penolakan justru datang betubi-tubi.

Setelah itu gue bungkam. Secara keseluruhan gue mendapatkan satu benang merah yang sama: salah. gue melihat A berpendapat membuat dia bertentangan dengan B. dan karena A dan B berbeda dengan C maka pertentangan lebih besar lagi. Ketika gue tidak menjadi A,B dan C di luar sana, itupun menimbulkan pertentangan.

Akhirnya gue merasa seberusaha apapun gue menjadi "baik" bahkan sekalipun menjadi baik versi A,versi B, versi C, atau versi apapun semua itu salah. kenapa? karena pasti ada yang beda dengan lu. bagaimana pun. 

Gue end up dengan mengungkapkan apa yang gue pikirkan. Gue benci pertentangan, gue benci semua orang selalu saling menyalahkan, gue benci ketika semua orang selalu mempermasalahkan sisi buruk orang lain, instead of bisa menghargai sisi baiknya, bahkan gue lelah semua orang merasa masing-masing adalah yang paling berat hidupnya sehingga membuat orang lain seperti dalam posisi tidak memiliki beban.

Sayangnya respon kejujuran itu tidak seindah abangnya teh yura yang memeluknya karena dia mengungkapkan insecurity-nya. Gue aneh, itu respon yang gue dapat. Gue salah karena justru gue menimbulkan pertentangan lebih dalam, sekalipun sebelumnya gue begitu berat berusaha mengungkapkan sisi baik A kepada B dan sebaliknya, dan seterusnya. 

Yah begitulah lingkungan yang mendidik gue, semuanya terasa burem dan gue mau coba bikin itu at least bisa kebaca walaupun gak semua. Makanya gue nulis catatan ini.

Lesson learned pertama. Sampai kapanpun segala kebaikan lu itu bukan apa-apa, bukan sebuah hal besar. Bahkan kebaikan lu bisa jadi kesalahan. Jangan sakit hati. Jujur sejak gue memilih persepsi itu, gue merasa lega. Gue merasa melakukan kebaikan bukanlah tuntutan. Kebaikan bukan yang heroic gimana-gimana. kebaikan lu itu ya memang begitu adanya, begitu harusnya, seperti lu bernapas, ya napas itu sebuah kewajaran untuk orang yang masih hidup. Lu gak butuh dipuji kan hanya untuk bernapas? Itulah yang gue lihat janggal. Semua orang suka sekali membanggakan kebaikannya dan kebaikan orang yang "lebih sepele" di tempatkan pada posisi yang berbeda. Seperti napas pendek dipermasalahkan karena dia bukan napas yang panjang atau sebaliknya.

Lesson learned kedua. Ketika apapun yang gue lakukan adalah sebuah kekeliruan, maka kenapa gak sekalian aja menjiwai untuk jadi keliru? Gampangnya, gue cuma harus memilih kesalahan dari semua yang salah. Kesalahan yang gue menjiwai untuk melakukan itu, terlepas dari kesalahan besar atau kecil, itu perihal persepsi bukan? Kata-kata ini mungkin terlihat berbahaya, tapi gue rasa karena keseringan observasi membuat gue suka ngitung, jadi, kesalahan apa yang mau gue lakuin itu perlu gue hitung. Pernah ada masanya gue nangis sambil mengeluarkan beberapa kalimat, kayak orang emosional tidak terkendali, tapi sebenernya gue sadar betul dan itu bagian dari kendali gue sendiri. Gue dibilang aneh, gue sudah tau itu jawabannya. Respon setelahnya menarik, karena gue bener-bener lega semua sesuai prediksi gue. Gue merasa gue bisa menerima semuanya bahkan hasil dari ulah kesalahan gue: ribut.

Lesson learned ketiga. Dulu gue dididik di lingkungan yang menanamkan "zero mistake" adalah target. Tapi buat gue manusia bodoh banget. Nabi Adam aja turun karena beliau melakukan kesalahan. Hidup di bumi adalah hukuman. Jadi? Zero mistake adalah tujuan dengan denial bahwa manusia punya kesalahan adalah kebodohan. Gapapa zero mistake jadi tujuan, tapi percayalah itu hanya di awang-awang. kita seperti mengejar kabut yang gak bisa dipegang. Cuma bisa dilihat.

Lesson learned keempat. Sisi mendengarkan itu menurut gue menarik dan gak boleh hilang. Kendali paling penting itu ada di bagian pendapat. Sebelum ini gue abis-abisan banget nutup kanal pendapat saking gakmau ada keributan. Setelah itu semuanya di luar dugaan, karena bukannya mengalir malah meledak. Sekalinya meledak segala pendapat gue, keadaan juga jadi runyam dan malah jadi feedback yang membuat gue semakin merasa bersalah. Gue paham kalau pendapat itu tetap tidak bisa ditahan. Namun rupanya pendapat itu bisa diselipkan dalam bentuk lain selain kata atau ucapan: lagu, gambar, tindakan. Di satu sisi juga gue ngeh kalau gak mesti orang tau lu sedang berdiri di atas pendapat apa. Adu pendapat dan memenangkan perdebatan akhirnya bukan kemenangan mutlak. Tidak berpendapat ataupun berdiri sebuah pendapat yang bukan pendapat lu juga bukan kekalahan mutlak, karena itu bukan kompetisi rupanya. Gue merasa gue jadi menikmati sisi gue yang menari-nari di atas pendapat yang tersimpan di dalam kepala gue sambil mendengarkan pendapat orang lain yang jauh berbeda dengan gue, dan gue mendengarnya dengan begitu tenang. Balik lagi, memenangkan perdebatan bukan hal menarik. Ada cara lain selain itu.

Lesson learned kelima. Ribut bisa dihindari. Tapi ketika harus terjadi, maka terjadilah. Gue sadar itu menjadi hal yang paling gue junjung tinggi. Gue gak mau ribut. Selagi bisa dihindari lebih baik menghindar. Tapi gak selalu. Ketika punya ruang menghindar untuk kemudian mengembalikan kondisi masing-masing itu tampak ideal memang. Sayangnya tidak semua kejadian memiliki ruang seluas itu untuk masing-masingnya menghindar satu sama lain. Ada kalanya ribut itu perlu, supaya melukai semua pihak yang terlibat, sehingga semuanya sakit, dan akhirnya semuanya fokus untuk memerhatikan luka masing-masing. Biasanya kalau orang sakit jadi kalem kan ya? Karena boro-boro nyerang, nahan sakit aja susah. Memang begitulah efek ribut. Ribut itu perlu supaya sakit. Supaya gak ada serang-menyerang.

Hal-hal itu tidak membuat gue tau mana gue yang asli. Gue cuma merasa asli pada akhirnya gak ada. Yang ada, cuma respon mana yang lu resapi sebagai nilai lu. Itu aja. Semuanya cuma soal kendali karena manusia tidak pernah konsisten. Bahkan ukuran tubuhnya saja tidak konsisten, yakan? Umur pun juga tidak konsisten. Jadi kalau ditanya mana gue yang asli. Jujur gue gatau. Terserah orang melihat gue yang mana. Yang A, yang B, yang C, bebas. Yang pasti gue merasa i can relate with all of them but in one side i cannot. I have a similarity with all people but in one side i am totally different with everyone. Bobotnya sama. Yah......so far sih so happy that i am really fine with it, apalagi gue tau dengan begini gue pasti ada salahnya. Bahkan tindakan gue untuk menulis ini pun pasti ada bagian kalau gue salah dengan melakukan ini.

Comments